Tampilkan postingan dengan label komponen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komponen. Tampilkan semua postingan

Rangkaian Power Supply 10 Ampere


Nih yang butuh rangkaian Power Supply 10 Ampere silahkan lihat langsung skema rangkaiannya beserta daftar komponen elektronika yang diperlukan untuk membuat rangkaian elektronik ini. Ada juga tuh gambar lay out buat PCB-nya sekalian. Hasil regulasinya lumayan stabil dan DC out put nya rata tanpa kerut. Power Supply ini bisa digunakan untuk keperluan misalnya Power amplifier audio dan FM Transmitter (pemancar FM Stereo) dan sebagainya. Sorry buat yang udah pesen agak lama nungguin, baru sempat diposting hari ini di Blog HOOBY ELEKTRONIKA kesayangan kita ini coz lumayan sibuk sih, he-he-he... Moga aja berguna deh....

Komponen Aktif Dan Komponen Pasif

Sebelum kita bahas lebih lanjut tentang komponen2 elektronika ada baiknya kita tahu dulu jenis2 komponen elektronika berdasarkan butuh tidaknya arus panjar dalam bekerjanya. Dalam bidang elektronika dikenal ada dua jenis komponen jika kita kelompokkan berdasarkan kriteria di atas. Dua macam komponen ini adalah komponen aktif dan komponen pasif. Dua macam komponen elektronika ini selalu ada dalam setiap rangkaian elektronika.
Komponen aktif adalah jenis komponen elektronika yang memerlukan arus panjar agar dapat bekerja dalam rangkaian elektronika. Contoh komponen aktif ini adalah Transistor dan IC juga Lampu Tabung. Besarnya arus panjar bisa berbeda-beda untuk tiap komponen2 ini.
Sedangkan komponen pasif adalah jenis komponen elektronika yang bekerja tanpa memerlukan arus panjar. Contoh komponen pasif adalah resistor, kapasitor, transformator/trafo, dioda dsb.
Dalam penggunaannya kedua jenis komponen ini hampir selalu digunakan bersama-sama, kecuali dalam rangkaian2 pasif yang hanya menggunakan komponen2 pasif saja misalnya rangkaian baxandall pasif, tapis pasif dsb. Untuk IC (Integrated Circuit) adalah gabungan dari komponen aktif dan pasif yang disusun menjadi sebuah rangkaian elektronika dan diperkecil ukuran fisiknya. Tentang IC ini akan kita bahas lebih lanjut di postingan yang lain aja deh biar lebih sip;-).

LDR (Light Dependent Resistor)

LDR atau Light Dependent Resistor adalah jenis resistor yang memiliki nilai resistansi yang tidak tetap. Artinya nilai tahanan/resistansi komponen ini dapat berubah-ubah. Perubahan nilai resistansinya tergantung (cape' deh:-D) dari kuat lemahnya cahaya yang dia terima, makanya dinamakan Light Dependent Resistor atau resistor yang bergantung pada cahaya.
Simbol LDR adalah seperti di bawah ini
Pada keadaan gelap tanpa cahaya sama sekali, LDR memiliki nilai resistansi yang besar (sekitar beberapa Mega ohm). Nilai resistansinya ini akan semakin kecil jika cahaya yang jatuh ke permukaannya semakin terang. Pada keadaan terang benderang (siang hari) nilai resistansinya dapat mengecil hingga beberapa ohm saja (hampir seperti konduktor).Dengan sifat LDR yang demikian maka LDR biasa digunakan sebagai sensor cahaya. Contoh penggunaannya adalah pada lampu taman dan lampu di jalan yang bisa menyala di malam hari dan padam di siang hari secara otomatis. Nah sensor yang digunakan adalah LDR ini, jadi bukan makhluk halus yang menyalakan/memadamkan lampu tsb.:-D

Transistor


Transistor adalah jenis komponen aktif yang terbuat dari bahan semi konduktor. Pada umumnya transistor digunakan sebagai penguat dalam rangkaian elektronika, yaitu memperkuat signal input (masukan) sehingga didapatkan signal yang lebih kuat pada output (keluaran)-nya.
Transistor memiliki 3 kaki yaitu Basis (B), Emitor (E) dan Colector (C). Basis adalah pengendali (control) arus yang akan mengalir melalui Colector dan Emitor. Makin besar arus yang mengalir antara Basis dan Emitor (arus basis atau iB) maka makin besar pula arus yang mengalir antara Colector dan Emitor (arus colector atau iC), hingga pada harga tertentu arus antara Emitor dan Colector mencapai maksimal (transistor pada kondisi jenuh). Pada kondisi jenuh tersebut seolah-olah Emitor dan Colector menjadi seperti saklar yang tertutup, sehingga transistor juga bisa digunakan sebagai saklar elektronik.
Bentuk Transistor pertama
Pada penggunaan transistor sebagai penguat, besarnya faktor penguatan yang bisa dilakukan oleh sebuah transistor dinamakan hfe transistor tersebut. Harga hfe bisa berkisar antara 5 hingga 400 bergantung jenis transistornya. Transistor kecil2 biasanya memiliki hfe besar dan sebaliknya transistor yang besar dan mampu menangani arus yang kuat biasanya ber-hfe kecil. Untuk mendapatkan hfe yang lebih besar bisa menggunakan 2 buah transistor yang dikaskada dinamakan sebagai Darlington, yaitu kaki Colector disatukan lalu Emitor transistor pertama disambungkan ke Basis transistor kedua. Pada rangkaian Darlington Basisnya adalah kaki Basis transistor pertama dan Emitornya adalah kaki Emitor transistor kedua, sedangkan Colector adalah kaki Colector keduanya yang telah disatukan tadi. Hfe darlington menjadi berlipat dengan cara seperti itu. Biasanya transistor pertama adalah jenis yang ber-hfe lebih besar dari pada transistor kedua.
Secara umum ada dua macam transistor yaitu transistor jenis PNP dan NPN. Simbol kedua transistor adalah berikut ini.Transistor PNP
Transistor NPN
Untuk menentukan kaki Basis Emitor dan Colector yang paling mudah adalah dengan melihat data book transistor atau bisa juga dengan menggunakan AVO Meter. Yang terpenting adalah jangan sampai terbalik dalam pemasangannya pada rangkaian elektronik atau transistor akan rusak permanen!
Jenis transistor yang lain adalah Field Effect Transistor (FET) atau transistor efek medan dan Metal Oxide Silicon FET (MOSFET). Untuk kedua jenis transistor ini nanti akan kita bahas tersendiri pada postingan yang lain, sabar ya:-).
* Beberapa gambar diambil dari WWW.FOTOSEARCH.COM

Dioda Gun & Varactor

Dioda Varactor adalah jenis dioda yang biasa digunakan pada rangkaian pembangkit frekuensi atau oscilator. Simbol komponen ini bisa dilihat pada gambar di bawah ini. simbol varactor
Nama lain dari dioda varactor adalah dioda varicap ( variable capacitor diode ). Pada circuit electronic RF (Radio Frequency) yang menggunakan Transistor bipolar maupun FET, varactor banyak digunakan sebagai variable kapasitor dalam VCO (Voltage Control Oscilator) yaitu oscilator yang frekuensinya dikendalikan oleh tegangan listrik. Sayangnya artikel tentang RF, rangkaian resonansi RLC dan oscilator masih belum tersedia di blog kesayangan kita ini. Jadi agak kerepotan nih ngejelasin prinsip kerja dioda varicap (varactor). Alright, saya akan coba bahas secara umum aja dulu dan untuk sementara saya anggap semuanya udah pada tau tentang rangkaian RLC (resistor-inductor-capasitor), tapis dan sedikit tentang RF.... maksa amat, he-he-he! Nanti mungkin akan menyusul postingan tentang itu.
Sebelumnya mungkin kamu perlu baca dulu postingan tentang dioda.
Varactor dalam penggunaannya difungsikan secara bias mundur, yaitu kaki katoda dikenakan pada tegangan ( + ) dan anoda pada tegangan ( - ). Jika beda potensial antara katoda dan anoda berubah maka akan terjadi perubahan lebar daerah deplesi pada sambungan semi konduktor tipe P dan tipe N yang ada di dalam dioda. Semakin tinggi tegangan listrik terbalik yang diberikan ( pada batas2 tegangan kerjanya ), maka daerah deplesi pada varaktor menjadi makin lebar akibat gaya tarik dari tegangan (beda potensial) tersebut. Dengan sifat seperti itu maka dioda ini bisa dianggap sebagai sebuah kapasitor yang keping-kepingnya adalah anoda (semi konduktor tipe P) dan katoda (semi konduktor tipe N) tersebut (ingat kapasitor adalah 2 keping konduktor dengan sebuah isulator di tengahnya sehingga arus DC tidak bisa mengalir). Demikian juga yang terjadi pada dioda ini, arus DC tidak mengalir karena diberi tegangan bias mundur (reverse bias).
So.. makin besar tegangan terbalik yang dikenakan pada dioda varactor (pada batas2 tertentu), maka akan semakin lebar daerah deplesinya, sehingga nilai kapasitas dioda varactor makin kecil karena jarak antara lempeng katoda dan anodanya makin besar (ingat... nilai sebuah kapasitor berbanding terbalik dengan jarak antar kedua lempeng pembentuk kapasitor tersebut - selengkapnya bisa dibaca di postingan tentang kapasitor). Bisa kita lihat kan perubahan tegangan yang dikenakan menyebabkan perubahan nilai kapasitas varactor? Nah, dari situ kita bisa mendesain (merancang) rangkaian elektronika yang menggunakan varactor sebagai kapasitor variable, misalnya rangkaian oscilator (VCO/VFO (Variable Frequency Oscilator)), tapis (filter) RF, PLL Oscilator, FM tuner atau TV tuner dsb.
Perubahan nilai kapasitor vs tegangan terbalik yang diberikan pada varactor ini bermacam-macam nilainya tergantung jenis dan tipenya. Misalnya ada yang 10 pf / volt linier pada rentang tegangan 1 hingga 10 volt dsb. Tiap-tiap varactor memiliki karakteristiknya sendiri-sendiri yang bisa kita lihat secara detil pada databook varactor. Ada yang single dan ada juga double (dual) varactor yaitu dua buah dioda varactor dalam satu kemasan. Beberapa contoh tipe varactor adalah berikut ini :
BB 106
BB 109
BB 304 (dual)
KV 1213 (dual)
Contoh aplikasi dioda varactor bisa dilihat pada gambar berikut ini, atau lihat pada gambar skema rangkaian oscilator 2 meter band yang ada di samping kanan postingan ini. Aplikasinya pada oscilator PLL FM Transmitter nanti akan saya posting pada postingan selanjutnya, tunggu aja tanggal mainnya...
Itulah sekilas tentang varactor atau dioda varicap. Untuk pembahasan tentang dioda gun silahkan dibaca aja langsung pada komentar2 yang masuk di bawah itu. Sorry rada males ngeposting ulang, he-he-he! Thx buat yang udah ngasih comment , bisa nambah wawasan elektronika :-).
Teori teknisnya sepertinya terlalu panjang jika dimuat di sini dan mungkin tidak cocok untuk belajar elektronika praktis, kecuali pingin bikin artikel skripsi :-).
*Update : sorry, ada kesalahan sebelumnya... Sekarang udah dibenerin :-).

AVO Meter

AVO meter adalah alat untuk mengukur arus, tegangan dan hambatan listrik. AVO meter adalah kependekan dari Ampere Volt Ohm meter. Ada dua jenis AVO meter yaitu AVO meter analog (tampilannya berupa jarum putar) dan AVO meter digital (tampilannya berupa display digital). Kadang orang menyebut AVO meter dengan multi tester.
Dalam penggunaannya penting sekali untuk memperhatikan dan memilih skala pengukuran yang sesuai sebelum melakukan pengukuran. Biasakan untuk menggunakan skala paling tinggi pada saat awal pengukuran baik arus, tegangan ataupun hambatan listrik. Selanjutnya bisa diturunkan skalanya jika dirasakan hasil pengukuran masih belum mencukupi tingkat ketelitiannya.
Sebagai contoh misalnya kita gunakan sebuah AVO meter analog untuk mengukur tegangan pada suatu sumber tegangan AC. Kita tempatkan saklar pada posisi VAC (pengukuran untuk tegangan AC), pilih skala tertinggi. Lihat simpangan jarumnya apakah sudah cukup untuk dapat terbaca ataukah simpangannya terlalu kecil sehingga sulit terbaca. Jika simpangan jarumnya terlalu kecil maka skala pengukuran bisa kita turunkan lagi sampai mendapatkan hasil simpangan yang dapat terbaca dengan baik. Jangan memilih skala yang terlalu kecil sehingga jarum menyimpang melebihi batas maksimum pengukuran, ini dapat merusakkan AVO meter. Penting juga memperhatikan polaritas jika yang kita ukur berkaitan dengan arus dan tegangan DC. Jangan sampai terbalik karena dapat juga merusakkan AVO meter.
Untuk AVO meter analog penting juga mengkalibrasi AVO meter sebelum digunakan untuk melakukan pengukuran, terutama dalam mengukur tahanan (resistor) agar hasil pengukurannya akurat. Caranya hubungkan tap2 AVO meter lalu putar penepat not (kalibrator) hingga jarum tepat menunjukkan angka 0 ohm, baru kemudian siap digunakan. Jika skala pengukuran diubah biasanya harus dikalibrasi lagi.


Untuk AVO meter digital biasanya dilengkapi dengan kemampuan untuk mengukur kapasitas sebuah kapasitor serta hfe transistor, dan tanpa perlu dikalibrasi. Sepertinya memang lebih praktis tapi harganya juga praktis lebih mahal, he he he!
Tapi ada juga AVO meter analog dengan merek tertentu yang lumayan mahal karena memang hasil bacaannya akurat dan bagus, cuma tetep bacanya mesti harus melirik simpangan jarum:-). Untuk pertanyaan seputar cara menggunakan AVO meter silahkan tulis comment aja, nanti akan saya jawab deh.

ECM - Electric Condenser Microphone



ECM atau Electric Condenser Microphone atau biasa juga disebut mic kondenser adalah microphone yang terbuat dari lempeng konduktor tipis membentuk sebuah kapasitor yang dapat berubah-ubah nilai kapasitasnya sesuai dengan getaran suara yang diterima. Jenis microphone ini bentuknya bisa sangat kecil sekali (sekitar 5-3mm) sehingga cocok digunakan pada peralatan elektronik kecil2 seperti ponsel, walkman,handycam,head set atau headphone yang dilengkapi microphone dsb. Karena ECM merupakan sebuah microphone ya sudah barang tentu fungsinya adalah mengubah getaran suara menjadi isyarat listrik, bukan mengubah tepung jadi kue, he-he-he!
Simbol ECM adalah seperti di bawah ini.Prinsip kerja ECM adalah getaran suara yang diterima oleh dielectric berupa membran tipis di dalam ECM akan menyebabkan perubahan nilai kapasitasnya. Selanjutnya isyarat tersebut dikuatkan oleh sebuah FET (Field Efect Transistor/Transistor Efek Medan) berpenguatan besar di dalam ECM tersebut agar output-nya siap diolah ke rangkaian pre-amp microphone. Karena ada komponen aktif di dalamnya yaitu FET, maka ECM memerlukan catu daya atau sumber arus dalam penggunaannya. Ini berbeda dengan microphone biasa yang berupa membran kumparan getar pada sebuah magnet tetap yang dapat bekerja tanpa memerlukan catu daya.
Gambar ECM dalam suatu rangkaian elektronik.
Ada 2 jenis ECM yaitu ECM kaki 2 dan kaki 3 (nggak ada hubungan ama merek minuman anti panas dalam loh!). Untuk yang berkaki 3, tepnya adalah ground, output dan catu Vcc +, sedangkan yang berkaki 2, Vcc + dan outputnya jadi satu. Kaki yang tersambung dengan body-nya adalah ground. Vcc + yang dibutuhkan oleh ECM biasanya adalah 1,5 VDC, atau bisa juga menderetkan sebuah resistor ukuran 10 K jika menggunakan tegangan DC 12 Volt.

Relay

Relay adalah komponen elektronika berupa saklar elektronik yang digerakkan oleh arus listrik. Secara prinsip, relai merupakan tuas saklar dengan lilitan kawat pada batang besi (solenoid) di dekatnya. Ketika solenoid dialiri arus listrik, tuas akan tertarik karena adanya gaya magnet yang terjadi pada solenoid sehingga kontak saklar akan menutup. Pada saat arus dihentikan, gaya magnet akan hilang, tuas akan kembali ke posisi semula dan kontak saklar kembali terbuka.

Relay biasanya digunakan untuk menggerakkan arus/tegangan yang besar (misalnya peralatan listrik 4 ampere AC 220 V) dengan memakai arus/tegangan yang kecil (misalnya 0.1 ampere 12 Volt DC). Dalam pemakaiannya biasanya relay yang digerakkan dengan arus DC dilengkapi dengan sebuah dioda yang di-paralel dengan lilitannya dan dipasang terbalik yaitu anoda pada tegangan (-) dan katoda pada tegangan (+). Ini bertujuan untuk mengantisipasi sentakan listrik yang terjadi pada saat relay berganti posisi dari on ke off agar tidak merusak komponen di sekitarnya.Penggunaan relay perlu memperhatikan tegangan pengontrolnya serta kekuatan relay men-switch arus/tegangan. Biasanya ukurannya tertera pada body relay. Misalnya relay 12VDC/4 A 220V, artinya tegangan yang diperlukan sebagai pengontrolnya adalah 12Volt DC dan mampu men-switch arus listrik (maksimal) sebesar 4 ampere pada tegangan 220 Volt. Sebaiknya relay difungsikan 80% saja dari kemampuan maksimalnya agar aman, lebih rendah lagi lebih aman.
Simbol relay (kurang lebih) seperti gambar di bawah ini.

Relay jenis lain ada yang namanya reedswitch atau relay lidi. Relay jenis ini berupa batang kontak terbuat dari besi pada tabung kaca kecil yang dililitin kawat. Pada saat lilitan kawat dialiri arus, kontak besi tersebut akan menjadi magnet dan saling menempel sehingga menjadi saklar yang on. Ketika arus pada lilitan dihentikan medan magnet hilang dan kontak kembali terbuka (off).
Penemu relay pertama kali adalah Joseph Henry pada tahun 1835.
Contoh relay dalam sebuah rangkaian elektronik adalah seperti di bawah ini.

Pada gambar di atas terlihat ada sebuah dioda sebagai pengaman tegangan tinggi dan sebuah transistor sebagai penggerak relay.

IC | Integrated Circuit

IC atau Integrated Circuit adalah komponen aktif yang merupakan gabungan dari komponen2 aktif (transistor,FET atau MOSFET) dan komponen pasif seperti misalnya resistor,kapasitor,dioda dsb. yang terintegrasi menjadi satu. Jadi sebenarnya IC merupakan sebuah rangkaian elektronik yang dikecilkan. Dalam penggunaannya kita cukup menambahkan beberapa komponen luar saja agar bisa bekerja sebagai rangkaian elektronik lengkap.
Bahan pembuatan IC adalah semi konduktor. Dalam sebuah IC bisa terdapat ratusan dan bahkan ribuan komponen2 aktif dan pasif. Gimana ya cara ngebuatnya? Yang pasti sangat rumitlah dan perlu tekhnologi yang canggih. Dengan adanya IC, sebuah rangkaian elektronik bisa lebih kompak lagi. Apalagi yang versi SMD (Surface Mount Device), sebuah IC SMD bisa berukuran 3-5 kali lebih kecil. Makanya peralatan2 elektronik mutakhir memiliki dimensi yang sangat kecil dan kompak.
Jenis2 IC sangat banyak dan beraneka ragam sesuai dengan kebutuhan penggunaannya. Misalnya saja IC analog,digital,penguat audio,penguat RF (Radio Frequency),IC regulator,CMOS,TTL dan masih banyak lagi yang lainnya. Semuanya memiliki kegunaan dan karakteristik sendiri2 yang bisa kita lihat di databook IC.
Sebuah perusahaan produsen IC mengeluarkan produk IC pasti disertai dengan databooknya juga. Disertai juga contoh aplikasinya dalam sebuah rangkaian elektronik, sehingga akan memudahkan para designer elektronika dalam merancang sebuah rangkaian elektronik. Pada databook IC bisa kita lihat rangkaian elektronik yang terintegrasi di dalamnya dan cara kerja IC tsb.
Pemasangan IC pada rangkaian elektronik harus dilakukan dengan hati2 agar tidak merusakkan IC tsb. Beberapa IC malah ada yang sangat sensitif sekali yang dapat rusak hanya karena elektrostatis akibat sentuhan tangan seperti misalnya jenis IC CMOS. IC juga bisa rusak akibat panas yang berlebihan pada saat penyolderan. Agar lebih aman biasanya digunakan soket IC, kita pasang dan solder soketnya dulu lalu IC-nya tinggal kita tancapkan ke soket yang sudah tersolder tsb. Dan ingat juga pemasangan IC tidak boleh terbalik, harus 100% benar. Hal yang paling penting dalam elektronika adalah ketelitian, artinya kesalahannya haruslah 0% jika ingin berhasil membuat sebuah rangkaian elektronik, susah ya? Mungkin juga, tapi jika sudah terbiasa ya jadi terbiasa. Maksudnya? Ya gitu deh kira-kira, he-he-he!
Untuk IC-IC penguat yang bekerja mengeluarkan panas disipasi yang tinggi (misalnya IC power amplifier audio) harus ditambahkan pendingin heat zink untuk membuang panas agar tidak cepat rusak. Bisa juga ditambahkan kipas. Dengan demikian IC akan bekerja dengan aman,stabil dan tidak cepat rusak.
Perbaikan sebuah rangkaian elektronik yang menggunakan IC biasanya akan lebih mudah. Jika komponen di sekitarnya kondisinya bagus maka sudah pasti IC-nya yang rusak, kita tinggal cabut dan ganti dengan IC yang baru. Kerusakan IC kadang agak sulit kita amati, secara fisik bisa terlihat seperti terbakar akibat panas berlebih tapi tidak selalu demikian. Kadang2 kerusakkannya tidak terlihat secara fisik. Yang pasti jam terbang akan sangat berguna untuk menganalisanya karena IC tidak bisa ditest dengan menggunakan alat ukur semacam AVO meter secara langsung. Biasanya kita ukur tegangan pada kaki2 IC tsb. pada saat bekerja dalam rangkaian, jika tidak sesuai dengan yang semestinya maka bisa kita dipastikan kerusakannya.
* Foto diambil dari FOTOSEARCH.COM

Resistor

Resistor atau tahanan adalah salah satu komponen elektronika yang berfungsi sebagai penahan arus listrik.Resistor termasuk dalam komponen elektronika pasif. Dalam penerapannya resistor digunakan sebagai :
1. Penahan arus listrik
2. Pembagi tegangan listrik
3. Filter pada rangkaian arus AC untuk frekuensi tertentu (digabungkan dengan kapasitor,induktor/lilitan,atau keduanya)
Contoh resistor adalah pada gambar berikut ini.


Yang berujung runcing itu bukan resistor:-D.

Macam-macam Resistor
* Menurut ukuran watt-nya :
1. Resistor 1/4 watt
2. Resistor 1/2 watt
3. Resistor 1 watt
.
.
.
dst.
Resistor terkecil adalah bentuk SMD (Surface Mount Device) seperti yang banyak digunakan pada peralatan2 elektronik kecil2 (mouse,ponsel,main board pc,laptop dsb.)

* Menurut Bahan Pembuatannya :
1. Resistor karbon
2. Resistor metal film
3. Resistor kawat filament
dsb.

* Menurut Ketetapan nilainya
1. Resistor tetap/permanent,resistor jenis ini nilainya tidak bisa diubah. Untuk menghitung nilai resistor silahkan baca di postingan Gelang Warna Pada Resistor.
2. Resistor variable,resistor jenis ini nilainya bisa diubah sesuai yang kita inginkan. Ada 2 macam resistor jenis variable ini yaitu potensio meter dan vr(variabel resistor). Untuk potensio meter mudah untuk mengubah nilai resistornya,bisa kita putar dengan tangan,biasanya digunakan pada peralatan elektronik yang dinamis misalnya pengatur volume suara pada radio dan telesivi,pengatur nada/tone control dsb.
Sedangkan vr untuk mengubah nilainya harus kita trim atau kita set dengan menggunakan obeng trimer.Biasanya di gunakan pada peralatan elektronik yang tidak butuh pengaturan setiap saat.

Dalam skema rangkaian elektronika resistor/tahanan simbolnya adalah seperti di bawah ini

Ok,kayaknya cukup perkenalan kita dengan teman
baru yang bernama resistor.

travo

atau sering juga disebut trafo adalah komponen elektronika pasif yang berfungsi untuk mengubah (menaikkan/menurunkan) tegangangan listrik bolak-balik (AC). Bentuk dasar transformator adalah sepasang ujung pada bagian primer dan sepasang ujung pada bagian sekunder. Bagian primer dan skunder adalah merupakan lilitan kawat email yang tidak berhubungan secara elektris. Kedua lilitan kawat ini dililitkan pada sebuah inti yang dinamakan inti trafo. Untuk trafo yang digunakan pada tegangan AC frekuensi rendah biasanya inti trafo terbuat dari lempengan2 besi yang disusun menjadi satu membentuk teras besi. Sedangkan untuk trafo frekuensi tinggi (digunakan pada rangkaian2 Radio Frequency/RF) menggunakan inti ferit (serbuk besi yang dipadatkan).
Pada penggunaannya trafo juga digunakan untuk mengubah impedansi. (hah makanan apaan tuh impedansi?!)
Wah kalo ngejelasin impedansi bakal habis postingan ini, ntar deh saya jelaskan tentang impedansi lain waktu aja ya :-). Balik lagi ke trafo, untuk trafo frekuensi rendah contohnya adalah trafo penurun tegangan (Step Down Trafo) yang digunakan pada peralatan2 elektronik tegangan rendah, adaptor, pengisi battery dsb. Trafo jenis ini jika pada bagian primernya kita hubungkan dengan tegangan AC misalnya 220 volt maka pada bagian skundernya akan mengeluarkan tegangan yang lebih rendah. Pada rangkaian tersebut trafo berfungsi untuk menurunkan tegangan AC dari jala-jala PLN yang 220 volt menjadi sebesar tegangan yang dibutuhkan peralatan tersebut agar dapat bekerja normal, misalnya 3 volt, 6 volt atau 12 volt dsb.
Sementara itu trafo penaik tegangan (Step Up Trafo) adalah kebalikan dari step down trafo yaitu untuk menaikkan tegangan listrik AC. Sebuah trafo penurun tegangan bisa juga kita gunakan untuk menaikkan tegangan dengan membalik bagian primernya menjadi skunder dan bagian skunder menjadi primer, tentu dengan memperhatikan tegangan kerja trafo tersebut. Contoh penggunaan trafo penaik tegangan adalah pada rangkaian emergency light/lampu darurat yang menyala saat PLN padam dan UPS pada PC. Prinsip kerjanyanya adalah tegangan DC (searah) yang berasal dari battery diubah menjadi tegangan AC (bolak-balik) lalu dinaikan menjadi 220 volt oleh trafo sehingga mampu menyalakan lampu atau PC di saat PLN padam.
Secara (bukan karena;-)) prinsip trafo penurun tegangan adalah jumlah lilitan primernya lebih banyak dari pada jumlah lilitan skundernya. Sedangkan trafo penaik tegangan memiliki jumlah lilitan primer lebih sedikit dari pada jumlah lilitan skundernya. Jika dilihat dari besarnya ukuran kawat email yang digunakan, trafo penurun tegangan memiliki ukuran kawat yang lebih kecil pada lilitan primernya. Sebaliknya trafo penaik tegangan memiliki ukuran kawat yang lebih besar pada lilitan primernya. Hal ini dikarenakan pada trafo penurun tegangan out put (keluaran) arus listriknya lebih besar, sedangkan trafo penaik tegangan memiliki out put arus yang lebih kecil. Sementara itu frekuensi tegangan pada in put dan out putnya tetap (tidak ada perubahan). Parameter lain adalah efisiensi daya trafo. Dalam kinerjanya trafo yang bagus memiliki efisiensi daya yang besar (sekitar 70-80%). Daya yang hilang biasanya keluar menjadi kalor/panas yang timbul pada saat trafo bekerja. Trafo yang memiliki efisiensi tinggi dibuat dengan teknik tertentu dengan memperhatikan bahan inti trafo, kerapatan lilitannya serta faktor2 lainnya.
Untuk mengetahui sebuah trafo masih bagus atau sudah rusak adalah dengan menggunakan AVO meter. Caranya posisikan AVO meter pada posisi Ohm meter, lalu cek lilitan primernya harus terhubung. Demikian juga lilitan sekundernya juga harus terhubung. Sedangkan antara lilitan primer dan skunder tidak boleh terhubung, jika terhubung maka trafo tersebut konslet (kecuali untuk jenis trafo tertentu yang memang didesain khusus untuk pemakaian tertentu). Begitu juga antara inti trafo dan lilitan primer/skunder tidak boleh terhubung, jika terhubung maka trafo tersebut akan mengalami kebocoran arus jika digunakan. Secara fisik trafo yang bagus adalah trafo yang memiliki inti trafo yang rata dan rapat serta jika digunakan tidak bergetar, sehingga efisiensi dayanya bagus. Dalam penggunaannya perhatikan baik2 tegangan kerja trafo, tiap tep-nya biasanya ditulis tegangan kerjanya misalnya pada primernya 0V - 110V - 220V, untuk tegangan 220 volt gunakan tep 0V dan 220V, sedangkan untuk tegangan 110 volt gunakan 0V dan 110V, jangan sampai salah atau trafo kita bakal hangus! Dan pada skundernya misalnya 0V - 3V - 6V - 12V dsb, gunakan 0V dan tegangan yang diperlukan. Ada juga jenis trafo yang menggunakan CT (Center Tep) yang artinya adalah titik tengah. Contoh misalnya 12V - CT - 12V, artinya jika kita gunakan tep CT dan 12V maka besarnya tegangan adalah 12 volt, tapi jika kita gunakan 12V dan 12V besarnya tegangan adalah 24 volt.
Besarnya arus listrik yang bisa di supply oleh sebuah trafo biasanya juga dicantumkan misalnya 0.5 Amp, 1 Amp, 5 Amp dsb. Sesuaikan dengan kebutuhan jika membeli atau menggunakannya agar bisa berfungsi normal dan efisien.
Jenis2 trafo yang lain adalah trafo OT(Output Trafo) dan IT(Input Trafo). Trafo jenis ini banyak digunakan pada peralatan audio. Untuk trafo frekuensi tinggi mungkin nanti akan kita bahas pada bagian Radio Frekuensi (RF) karena penggunaannya lebih banyak dalam rangkaian2 RF.

condensator

Komponen elektronika kali ini yang akan kita bahas adalah kapasitor.Selain kapasitor nama lainnya adalah condensator.Komponen ini seperti halnya resistor juga termasuk dalam kelompok komponen pasif,yaitu jenis komponen yang bekerja tanpa memerlukan arus panjar.

Jenis-jenis kapasitor ada berbagai macam,diantaranya adalah di bawah ini.

* Menurut Polaritasnya
- Kapasitor Polar
Memiliki polaritas (+) dan (-).
Dalam pemasangannya harus diperhatikan polaritasnya dan tidak boleh dipasang terbalik. Pada bodynya terdapat tanda polaritasnya untuk menandai kaki yang berpolaritas (+) atau (-).
- Kapasitor Non Polar(Bipolar Capasitor)
Jenis kapasitor ini bisa dipasang bolak-balik.

* Menurut Bahan Pembuatannya
Kapasitor pada dasarnya adalah 2 buah lempeng logam(dielectric) yang dipisahkan oleh sebuah bahan isulator. Nah,bahan isulator inilah yg menentukan nama kapasitor tersebut.
Menurut bahan pembuatannya jenis2 kapasitor adalah :
- Kapasitor Elektrolit → isulatornya dibuat dari bahan elektrolit
- Kapasitor Mika → bahan isulatornya dibuat dari mika
- Kapasitor Udara → bahan isulatornya dibuat dari udara.
- Kapasitor Kertas,tantalum,milar,dsb.

* Menurut Ketetapan Nilainya
- Kapasitor Tetap/permanen
Nilai kapasitasnya tidak bisa diubah-ubah.
- Kapasitor Variable atau sering juga disebut VC atau Varco (variable capasitor)
Kapasitor jenis ini bisa kita ubah-ubah nilainya.

Fungsi kapasitor adalah untuk menyimpan arus/tegangan listrik. Untuk arus DC kapasitor berfungsi sebagai isulator/penahan arus listrik, sedangkan untuk arus AC berfungsi sebagai konduktor/melewatkan arus listrik.
Dalam penerapannya kapasitor digunakan sebagai filter/penyaring,perata tegangan DC pada pengubah AC to DC,pembangkit gelombang ac atau oscilator dsb.

Nilai kapasitor dapat kita lihat pada tulisan yang terdapat pada body-nya, misalnya 10 uF/16 V artinya nilai kapasitor itu adalah 10 mikro Farad dan bisa bekerja pada tegangan maximal 16 V,jika melebihi 16 V maka kapasitor ini akan mengalami 'break down' alias ko'it:-).
Farad adalah satuan nilai kapasitas dari kapasitor.
1 uF → 1 mikro Farad = 1 x 10 pangkat (-6) Farad = 0.000001 Farad
1 nF → 1 nano farad = 1 x 10 pangkat (-9) Farad
1 pF → 1 piko Farad = 1 x 10 pangkat (-12) Farad

# Kode Angka Pada Kapasitor
Untuk kapasitor yang nilai kapasitasnya di bawah 1 uF biasanya nilai kapasitasnya dituliskan dalam kode angka.
Contoh :
1. 104 → 10 x 10 pangkat 4 (dalam satuan piko Farad) = 100000 pF atau 100 nF atau 0.1 uF
2. 222 → 22 x 10 pangkat 2 (pF) = 2200 pF atau 2.2 nF
* caranya adalah kita tulis ulang 2 angka pertama,kemudian kita kalikan dengan 10 pangkat angka terakhirnya.
3. 4n7 → 4.7 nano Farad
4. 2p5 → 2.5 piko Farad

Kapasitor yang bernilai di bawah 1 uF umumnya adalah jenis non polar,kecuali yang jenis elektrolit.

Gambar kapasitor adalah berikut ini


Dalam skema elektronika simbol kapasitor adalah seperti di bawah ini

Yang ada tanda (+) dan (-) adalah simbol kapasitor polar sedangkan yang tanpa tanda (+) dan (-) adalah simbol kapasitor non polar.

dioda

Dioda adalah merupakan jenis komponen pasif. Dioda memiliki dua kaki/kutub yaitu kaki anoda ( A ) dan kaki katoda ( K ). Dioda terbuat dari bahan semi konduktor tipe P dan semi konduktor tipe N yang di sambungkan. Semi konduktor tipe P berfungsi sebagai Anoda dan semi konduktor tipe N berfungsi sebagai katoda. Pada daerah sambungan 2 jenis semi konduktor yang berlawanan ini akan muncul daerah deplesi yang akan membentuk gaya barier. Gaya barier ini dapat ditembus dengan tegangan + sebesar 0.7 volt yang dinamakan sebagai break down voltage, yaitu tegangan minimum dimana dioda akan bersifat sebagai konduktor/penghantar arus listrik.
Dioda bersifat menghantarkan arus listrik hanya pada satu arah saja, yaitu jika kutub anoda kita hubungkan pada tegangan + dan kutub katoda kita hubungkan dengan tegangan - (kita beri bias maju dengan tegangan yang lebih besar dari 0.7 volt) maka akan mengalir arus listrik dari anoda ke katoda (bersifat konduktor). Jika polaritasnya kita balik (kita beri bias mundur) maka arus yang mengalir hampir nol atau dioda akan bersifat sebagai isulator.
Karena sifat dioda yang bekerja sebagai konduktor jika kita beri bias maju dan bekerja sebagai isulator pada bias mundur, maka dioda sering digunakan sebagai penyearah (rectifier) arus bolak-balik. Contoh penggunaannya adalah pada rangkaian adaptor, DC power supply (Catu Daya DC) dsb.
Simbol dioda adalah
A --►I-- K
Menurut bahan semi konduktor yang digunakan dalam pembuatannya, dioda ada 2 jenis yaitu :
1. Dioda silikon --> dibuat dari bahan silikon.
2. Dioda germanium --> dibuat dari bahan germanium.
Jenis-jenis dioda dan penggunaannya :
- Dioda silikon --> banyak digunakan pada peralatan catu daya sebagai penyearah arus, pengaman tegangan kejut dsb. Contoh : 1N4001, 1N4007, 1N5404 dsb.
- Dioda zener --> digunakan untuk membatasi/mengatur tegangan. Contoh : zener 6.2 volt, zener 3.2 volt dsb.
- Dioda x'tal(istilah ini mungkin tidak cocok, hanya sering digunakan oleh orang2 elektronika saja) --> banyak digunakan pada rangkaian Radio Frequency (RF) sebagai detector gelombang radio. Contoh OA91, BA244.
- Dioda Gun/Varactor --> banyak digunakan untuk membangkitkan gelombang/oscillator dengan memanfaatkan sifat kapasitornya yang dapat berubah jika diberi tegangan yang berbeda. Contoh : BB106, BB109, BB304 (duo varactor), 1SV217 dsb. Simbol dioda varactor adalah
A --►II-- K
- Dioda Bridge --> 4 buah dioda yang dirangkai menjadi rangkaian jembatan/bridge. Banyak digunakan pada rangkaian catu daya sebagai penyearah gelombang penuh (full wave rectifier). Contoh : B40C800, kiprox pada kendaraan bermotor dsb.
Dalam pemasangannya dioda harus terpasang dengan benar, tidak boleh terbalik. Secara fisik kaki katoda ( K ) adalah kaki yang dekat dengan tanda gelang yang terdapat pada body-nya. Untuk mengetahui sebuah dioda masih bagus atau sudah rusak adalah dengan menggunakan AVO Meter. Posisikan pada Ohm meter, kasih bias maju (tap AVO + terhubung ke katoda dan - ke anoda) --> harus tersambung (jarum bergerak), kasih bias mundur --> harus tidak tersambung (jarum tidak bergerak). 'Jika dan hanya jika' ke-dua kriteria tsb. terpenuhi semua maka dioda tsb. masih bagus, selain itu berarti rusak (putus/bocor).
Jenis dioda yang lainnya lagi adalah LED (Light Emitting Dioda) yaitu jenis dioda yang dapat meng-emisikan (memancarkan) cahaya. Cahaya yang dikeluarkan bisa cahaya tampak (merah, kuning, hijau, biru, putih dsb.) ataupun infra merah. Untuk LED cahaya tampak biasa digunakan sebagai lampu indikator pada peralatan-peralatan elektronik atau lampu2 display,7 segment dsb., sedangkan LED infra merah biasa digunakan pada rangkaian remote control televisi, VCD/DVD player, mouse dsb. LED memiliki kelebihan yaitu konsumsi arus yang rendah (sekitar 50 mA) dan usia/life time yang panjang jika digunakan pada tegangan kerja yang sesuai (sekitar 1.5 - 3 volt DC) sehingga cocok digunakan dalam banyak penerapan. Jika tegangan yang diberikan melebihi 3 volt, LED akan berumur pendek dan bahkan bisa langsung ko'it:-D.
Simbol dan gambar LED adalah berikut ini.

Simbol LED

Gambar LED
Kaki yang lebih panjang biasanya adalah kaki anoda LED.

Template by : kendhin ariyfriends.blogspot.com